URBAN LEGEND: MARSHY SWAMP
***
Siang hari itu, aku bermain dengan
sahabatku di sebuah padang rumput. Kami bermain layaknya anak pada umumnya,
kejar mengejar, lalu saling menebak pertanyaan-pertanyaan konyol hingga lempar
tangkap Frisbee. Ketika kami kelelahan, kami akan beristirahat disana, meneguk
air botol yang kami bawa. Namun, siang itu ada sesuatu yang aneh terjadi pada
sahabatku Tom.
Ia terus berdiri dan menatap ke padang
ilalang yang panjang, tempat itu adalah tempat yang kami hindari, umumnya tumbuhan
ilalang memiliki tekstur yang lembut namun ilalang itu sangat berbeda, ilalang
itu hampir setinggi orang dewasa dengan tekstur yang kasar, dan bila mengenai
kulit menyebabkan kegatalan yang bisa bertahan hingga berjam-jam.
“Kau sedang melihat apa?” kataku sembari
menarik tanganya agar ia ikut duduk bersamaku, namun ia menolak.
“Aku melihat burung disana” katanya tetap
melihat.
“Burung. Tidak ada burung disana” kataku
meyakinkan.
“Tapi, aku melihatnya. Kau mau pergi
memeriksanya” dia melihat ke arahku.
“Memeriksa apa?”
Itu adalah ide yang buruk, orang tuaku
selalu mengingatkan agar tidak mendekati tempat itu. Bila orang tuaku melarang
sesuatu pasti ia memiliki alasan kuat kenapa itu di larang. “entahlah Tom, ku
pikir itu ide buruk”
“Kalau begitu ijinkan aku memeriksanya
sendirian” Tom menatapku tajam lalu mendekati ilalang berduri itu.
Aku berdiri mengamati Tom. Dia benar-benar
nekat memeriksa tempat itu, meski ia ragu untuk beberapa saat, karena ia
berhenti tepat di muka ilalang. “jangan Tom. Jangan lakukan itu” kataku mencoba
meyakinkanya lagi.
“Kenapa memang. Apa kau takut?” Tom
menantangku.
“Tidak Tom!!” kataku membentak “Aku tidak
pernah takut apapun!! “
“Iya kau takut.” Tom tersenyum sinis
kepadaku. “Kau takut dengan cerita konyol tentang ilalang ini. Benarkah?”
“Jangan memulainya Tom!!” aku mengingatkan.
“Kalau begitu, buktikan. Kenapa kau tidak
mencoba untuk masuk, tenang saja, aku juga akan pergi bersamamu, hanya
memeriksa sobat. Kecuali.. kau benar-benar takut. Aku tidak masalah dengan itu”
“Cukup Tom.” Aku mendekati wajah memuakkan
itu. “Kau mengatakan aku takut. Lihat dirimu, hanya mengoceh dan mengoceh bila
memang ingin memeriksa seharusnya kau langsung saja masuk dan tidak perlu
menantangku seperti ini. Dasar kau penakut culun licik. Ayo kita masuk dan kita
lihat burung yang kau bicarakan, semoga selain penakut kau juga bukan
pembohong”
Untuk alasan yang tidak masuk akal, aku
melesat masuk. Tom ada di belakangku, ilalang itu sungguh kasar, tidak butuh
lama untuk melihat kulitku mulai memerah, selain itu rumputnya juga sangat
menyakitkan ketika terinjak. Aku ingat saat itu, hari menjelang senja. Aku
terus menelusuri jalan setapak penuh ilalang itu, sampai aku menginjak sesuatu.
Itu adala burung yang cukup besar,
menyerupai itik namun berbintik hitam, ia terbang namun tidak setinggi burung
pada umumnya, burung itu menembus semak –semak dengan tubuh besarnya, Tom
berseru menepuk bahuku lalu mendahuluiku.
“Sudah ku bilang kan” senyuman tergambar di
wajahnya.
Aku segera berlari mengikutinya, tanpa
sadar aku ikut terbawa suasana, kakiku berlari semakin cepat mencoba menyusul
Tom, namun entah apa yang terjadi, semakin aku mengikuti gerak semak-semak
jejak Tom, aku tidak juga mendahuluinya.
Awalnya ku pikir Tom terlalu cepat namun aku
salah, aku tidak lagi melihat Tom di depanku. Aku menjadi panik setelahnya, aku
berteriak keras memanggil nama Tom, “Tom—Tom” dengan kikuk aku terus menembus
ilalang itu dan terus menerus memanggil namanya, berteriak. Hanya angin yang
berhembus membalasnya.
Ku sadari, ketakutan mulai memenuhi
kepalaku. Aku terus menyisir tempat itu, ku alihkan ilalang itu dengan kedua
tanganku, hingga jalan yang ku lalui mulai berubah, semacam rumput yang ku
injak mulai berair, aku ingat, tempat ilalang ini tumbuh dekat dengan rawa-rawa
terbuka, ku rasa, aku mendekati rawa –rawa.
Aku terus berjalan berhati-hati, mencari
sela dimana kakiku masih akan menginjak rerumputan dan tanah,
Seperti dugaanku, aku keluar dari ilalang
itu dan menemukan semacam rawa-rawa yang di tinggalkan, ku amati tempat itu
mencoba mencari jalan apakah aku bisa menyebrangi rawa-rawa, sampai mataku
menangkap makhluk itu.
Seketika, aku tidak bisa mengatakan apa-apa
lagi. Aku hanya diam dan terus melihat. Makhluk itu, makhluk apapun itu.
Semua menjadi sangat aneh, bibirku gemetar
namun tidak ada suara yang keluar, seperti berhenti di kerongkongan. Kakiku
tetap berdiri tegak, namun engan untuk berlari meninggalkan tempat itu. Ku
pikir, aku sudah kalap dan tidak tahu apa-apa lagi. Semacam shock yang tiba-tiba
menguasai. Perlahan samar-samar aku mendengar suara Tom, karena sebelum mataku
membaur dan mulai kabur, Tom menepuk pipiku, wajahnya samar-samar dan dia terus
berbicara namun hanya sedikit yang mampu ku dengar. Itu adalah “Pergi—“
“Pergi—lari!!”
Tom menarikku dan aku mengikutinya dengan
pasrah, dan semuanya menghitam.
Aku membuka mata dan melihat diriku
terbaring di dalam kamar. Ayahku melihatku murka, menampar wajahku lalu
memelukku sembari sesenggukkan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku
masih mengingat kejadian itu di kepalaku. Setiap moment’nya.
Esok hari, aku bertemu Tom. Kami tidak
banyak bicara, kami hanya duduk menatap kosong apa yang ada di depan kami.
Setelah kami terjebak jedah yang panjang, aku mulai berbicara.
“Kau pasti melihatnya bukan?”
Tom hanya diam. Aku tidak memaksanya.
“Menurutmu makhluk itu hidup? Apakah ia hidup?”
Tom masih diam.
“Tom?” kataku lagi.
“Aku melihatnya. Sangat jelas, kau bertanya
apakah makhluk itu hidup. Entahlah, namun aku melihat matanya. Mata itu, ku
pikir ia juga melihatku.”
Mata Tom menjadi memerah. Sepertinya ia
sudah menangis cukup lama.
Dengan gemetar aku bertanya untuk terakhir
kalinya. “Bagaimana bisa di tempat seperti itu, ada tubuh bayi dengan kepala
Sapi”
***
Nb: beberapa Versi, menyebut itu kerbau,
namun ada juga versi menyebut itu adalah Kambing. Intinya. Ada seseorang yang
membuang jasad bayi cacat mungkin, atau lebih jauh.. itu penjelmaan kau tahu
siapa yang ku maksud. mungkin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar